JVPass - Technology and Trending Blog

Akankah Pekerjaan Seorang Akuntan Menghilang Di Era Revolusi Industri Ke-40?

Selama lima tahun terakhir kita dikejutkan dengan istilah ‘Revolusi Industri 4.0’. Padahal, perdebatan tentang revolusi industri ke-4 tidak terbatas pada pendidikan dan industri.

Masyarakat luas sering mendengar dan menggunakan istilah tersebut. Liputan media besar-besaran tentang perubahan besar dan drastis menambah antusiasme pada suara. Periode dingin, pergolakan besar secara keseluruhan.

Revolusi Industri 4.0 menjelaskan bahwa semua pekerjaan akan digantikan oleh robot atau mesin dengan sistem kecerdasan buatan (AI). Sekarang beberapa pekerjaan manusia telah digantikan oleh komputer dan mesin. Misalnya, pekerja pabrik, kasir, dan pekerjaan yang berhubungan dengan akuntansi.

Ada laporan yang mengejutkan. Menurut sebuah studi oleh Frey dan Osborne, dikutip oleh Nagarajah (2016), akuntan profesional dan auditor cenderung kehilangan hingga 94% dari pekerjaan mereka karena komputasi keuangan menggunakan teknologi AI.

Data masih prediksi, tetapi berita membuatnya tampak seperti fakta. Mereka yang hanya memiliki sebagian informasi percaya bahwa profesi akuntansi tidak memiliki masa depan.

Ini memiliki efek pewarnaan. Jangan biarkan anak-anak atau keluarga yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi memilih jurusan akuntansi di kemudian hari.

Di tingkat menengah dan perguruan tinggi, stigma ini mengurangi siswa memilih jurusan akuntansi. Jika stigma tersebut terus berkembang, sektor akuntansi Indonesia akan menghadapi defisit yang serius.

Tapi benarkah profesi akuntansi tergantikan? Apakah persepsi masyarakat terhadap profesi akuntan salah di Era Industri 4.0?

Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), masih kekurangan akuntan profesional di Indonesia. Ketersediaan akuntan di Indonesia masih sekitar 16.000 sedangkan kebutuhan untuk pekerjaan ini adalah 452.000.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan profesi akuntan masih sangat tinggi. Jika kekurangan akuntan tidak diisi dengan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, bukan tidak mungkin akuntan luar negeri bisa mengisinya.

Padahal, ada masalah mendasar bagi akuntan di Era Industri 4.0. Seperti kebanyakan profesi, ada ketakutan untuk menyesuaikan atau meninggalkan zona nyaman akuntan.

SHUTTERSTOCK / Iurii Motov Ilustrasi Revolusi Industri.

Padahal, kita tahu bahwa munculnya Industri 4.0 juga akan memberi manfaat bagi perkembangan industri dan masyarakat. Sebagai dosen, saya melihat esensi Revolusi Industri 4.0 sebagai perubahan yang cepat dan mendasar dalam penerapan teknologi mekanik pada kegiatan ekonomi rakyat.

Misalnya, Revolusi Industri Pertama 1750-1850 membawa perubahan besar di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi.

Perubahan tersebut juga mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi dan budaya dunia. Melihat perkembangan Revolusi Industri yang dimulai melalui Revolusi Industri 1.0, 2.0, 3.0, dan kini 4.0, maka esensi pembangunan industri dapat dikatakan pada pemanfaatan padat karya yang berubah menjadi padat modal dan padat teknologi. .

Artinya penggunaan tenaga kerja telah diubah menjadi penggunaan mesin. Dalam Revolusi Industri 4.0, sistem cyber-fisik ini dibedakan.

Ini fitur penggunaan ekstensif teknologi nirkabel dan teknologi data besar untuk mengintegrasikan kegiatan produksi dan efisien didukung oleh kecerdasan buatan. Aktivitas tersebut kemudian diintegrasikan melalui peralatan pintar menggunakan teknologi Internet of Things (IoT).

Adanya Revolusi Industri 4.0 membawa manfaat besar bagi manusia. Salah satunya adalah karena teknologi yang kita gunakan semakin maju, semakin mudah untuk mendapatkan hal-hal yang kita butuhkan dengan cepat dan dengan harga yang wajar.

Jadi bagaimana seharusnya akuntan menanggapi perubahan ini?

Sampai saat ini, profesi akuntansi diartikan sebagai pegawai yang mencatat transaksi dan menyusun laporan keuangan. Dalam beberapa tahun terakhir, jenis pekerjaan ini sudah mulai hilang atau diganti.

Hal ini terjadi karena perdagangan komoditas dilakukan dengan menggunakan mesin pemindai barcode. Catatan transaksi ini terintegrasi langsung ke dalam sistem yang secara otomatis menampilkan laporan keuangan.

Intervensi mesin pada transaksi membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien.

Tetapi catatan US News & World Report menunjukkan bahwa pekerjaan akuntansi tidak akan hilang dan masih sangat dibutuhkan. Faktanya, akuntan berada di peringkat #13 dalam daftar Bidang Bisnis Terbaik kami untuk tahun 2021.

Menurut Accounting Today, akuntan dapat mengambil peran yang lebih strategis, meskipun beberapa tugas akan digantikan oleh mesin. Peran akuntan akan diperluas. Misalnya, sebagai penasihat bisnis dan mitra strategis, Anda tidak sepenuhnya bertanggung jawab sebagai profesional keuangan.

Masalah pelanggan ditangani oleh akuntan dengan keterampilan tingkat lanjut. Hal ini menuntut agar profesi akuntan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini.

Akuntan tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuannya dalam menghitung dan menyusun laporan keuangan. Namun, mereka juga harus dapat menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan mengintegrasikannya ke dalam operasi keuangan yang efektif dan menghasilkan informasi strategis.

Kekuatan kecerdasan buatan membuat pelaporan keuangan lebih efisien. Dengan demikian, akuntan dapat fokus pada tugas-tugas strategis seperti analisis informasi menggunakan fasilitas big data dan teknologi pemrosesan cloud.

Akuntan membutuhkan keterampilan baru di bidang ini. Pekerjaan ini membutuhkan penguasaan soft skill, kemampuan berpikir kritis dan sistematis, dan pemahaman bisnis yang dapat mengubah lautan data menjadi proposal yang tajam untuk kemajuan perusahaan Anda.

Dari perspektif manajemen bisnis, dibutuhkan profesi akuntansi sebagai konsultan untuk memberikan penilaian dan pertimbangan kepemimpinan dalam kaitannya dengan situasi keuangan yang Anda hadapi. Akuntan di Era Industri 4.0 harus memberikan pemahaman yang akurat dan mendalam tentang data mereka.

Mereka harus menemukan dan memecahkan pertanyaan data, melakukan analisis statistik, memeriksa kualitas data, dan menafsirkan hasil pemrosesan data. Pekerjaan akuntan juga meluas ke pelaporan non-keuangan, keamanan data komputer dan aspek sistem informasi. Akuntan harus mampu beradaptasi dengan keterampilan untuk melakukan pekerjaan.

Dalam International Issue of Accounting and Business edisi Desember 2016, Catherine Christ dan Roger Leonard Burrett menyebutkan 4 langkah yang perlu dilakukan akuntan untuk mendidik dirinya dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Berikut ini ringkasannya.

Jadilah positif tentang perubahan yang terjadi. Dengan cara ini Anda tidak lagi dapat melihat perubahan sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang. Pasalnya, Revolusi Industri 4.0 dapat meningkatkan kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada.

Praktisi pendidikan diharapkan mampu mengembangkan kurikulum terkait perkembangan kebutuhan digital. Dengan demikian, lembaga pendidikan dapat menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang akuntansi.

Modifikasi kurikulum, misalnya, mengajarkan pengkodean, mengelola informasi di berbagai program dan platform, atau menerapkan akuntansi waktu nyata.

Akuntan perlu diinformasikan dan dididik untuk mempersiapkan perubahan yang akan datang. Oleh karena itu, komunitas pendidikan harus mendiskusikannya secara teratur dengan akuntan. Selanjutnya, juga dinilai tingkat kompetensi profesi akuntan masa depan.

Akuntan harus memiliki kontrol maksimum atas data yang mereka hasilkan. Data atau informasi fisik ini biasanya diperoleh di bawah tanggung jawab insinyur. Ini berarti bahwa hubungan bisnis antara akuntan dan insinyur harus bekerja secara harmonis untuk memastikan bahwa data dan informasi akuntansi terpelihara dengan baik.

Kesimpulannya, profesi akuntan tidak akan berakhir di Era Industri 4.0. Namun, akuntan harus mau dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Jadi, jangan takut dengan akuntan dan kirimkan anak Anda untuk belajar akuntansi.

Masa depan yang cerah menanti para profesional akuntansi dari Indonesia dan dunia. Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan kutipan bijak dari Alan Wilson Watts.

“Satu-satunya cara untuk memahami perubahan adalah dengan terjun ke dalamnya, bergerak bersama, dan ikut menari.”

[INFEEDUNIT]
Get Code
Share Me On
Get Code

Leave a Comment